[Flash 9 is required to listen to audio.]

SAHABAT KECIL -by IPANG

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Reff:
Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Back to Reff:

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

May 31. 1 Notes.
apelkrowak

apelkrowak

May 26. 0 Notes.

"Sekat yang semakin rapat. Tak sedikitpun membuat kita merapat. "

� keongdudul
May 19. 0 Notes.

Menjual MIMPI dengan Harga TINGGI

Ternyata mimpi bisa diperjual belikan secara bebas. Dengan harga tinggi pula. 

Di kota kecil ini. Hampir semua penduduknya tukang mimpi. Selalu yakin bahwa setiap mimpi layak untuk diperjuangkan. Secuil sekalipun.

Malam ini, sebuah lomba dengan iming-iming mimpi di adakan secara besar-besaran. Di hadiri  oleh banyak sekali penjudi-penjudi mimpi. Bertaruh dengan secuil koin keyakinan. Berharap memenangkan sebuah piala mimpi yang paling indah.

Juri lomba kali ini ialah seorang saudagar kaya penjual mimpi yang mengaku datang dari ibu kota. Seorang bapak-bapak paruh baya. Rambut gimbal. Berkaca mata hitam. Topi baret. Kain sarung ala seniman-seniman yang biasa aku liat di televisi. Umur? Umurnya sepertinya tidak terlalu tua. Hanya saja penampilannya hampir mengelabuiku, sbelum aku memperhatikan gelang trendy yang melingkar di tangan sebelah kanannya.

Tidak hanya satu, juri pada perlombaan ini. Ada seorang wanita paruh baya. Dandanannya seperti dipaksakan agar terlihat seperti artis. Baju jaring-jaring. Celana ketat. Make up menor. Menurut pengakuannya, ia adalah artis kondang ibukota pada jaman dulu. Jaman sebelum otak saya diberi racun sinetron oleh televisi. 

Selain itu ada juga seorang gadis. Nah juri yang satu ini lumayan sedap dipandang mata. Seumuran dengan saya. Seksi. Make up pas. Gincu tidak terlalu menor seperti wanita sebelumnya. Ia juga mengaku pernah jadi artis di film nasional. Tapi.. spertinya saya belum pernah melihatnya sama sekali. Ah tidak. Mungkin ini gara-gara televisi saya saja yang kurang modern. Yang jelas dia cantik. Sayang sekali gayanya angkuh. Huh. Aku selalu enggan dengan wanita angkuh.

Ketiga juri tersebut semuanya mengaku datang dari ibukota dan akan membantu kami para tukang mimpi ini untuk mewujudkan mimpi kami.

Lomba malam ini ialah Lomba Menyuarakan Mimpi. 

“Suarakan Mimpi Anda Sekarang. Sebelum Orang-Orang di Parlemen Mendahului Anda!”

Lomba ini terbagi menjadi dua kategori utama. Kategori Pemula dan Kategori Mahir. Barang siapa yang mampu menyuarakan mimpinya dengan sangat baik maka ia akan diajak ke ibukota. Datang ke sebuah daerah yang memiliki peradaban mimpi terbesar di negeri ini.

Sebelum perlombaan ini di mulai, si saudagar mimpi yang katanya datang dari ibukota itu memberikan kami wejangan.

“Saya adalah saudagar kaya dari ibukota. Saya punya banyak mimpi untuk kalian semua.”

“Suarakan mimpi kalian sekencang-kencangnya. Jangan sampai kalah dengan orang-orang parlemen di ibukota.”

“Anda berhak bermimpi lebih dari mereka. Saya dapat membantu anda mewujudkannya..”

bla..bla..bla..

Lebih tepat seperti tukang salep di alun-alun yang sedang menjajakan jualannya, ketimbang pemberi motivasi untuk kami para peserta lomba menyuarakan mimpi.

                                                           ***

Kategori Pemula.

Anak-anak kecil asik menyuarakan mimpi-mimpi mereka tentang luar angkasa. Tentang pangeran dan putri di negeri dongeng. Tentang misteri kerajaan bawah laut yang dihuni oleh seekor dugong berkepala manusia. Sampai mimpi tentang aroma lezatnya bangku sekolah.

“Jika aku besar. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Melihat bumi dari tanah bulan.”

“Jika aku besar aku ingin menjadi seorang awak pesawat. Aku ingin terbang seperti burung lalu singgah di surga, rumah ibu.”

“Jika aku besar, aku ingin menjadi seperti ayah. Seorang tukang gulali di depan SD Gemar Bermimpi di ibukota. Aku ingin mencium lezatnya aroma sekolahan dari luar pagar.”

                                                           ***

Kategori Mahir.

Kategori ini hanya bagi para peserta yang sudah jago dalam urusan bermimpi. Rata-rata peserta dikategori ini telah melatih bakatnya bertahun-tahun demi untuk mewujudkan mimpinya jadi pemimpi yang handal. Aku salah satunya.

Peserta pertama…

“Aku ingin menjadi juragan emas dengan menjual sekilo tumpukan koran bekas ini. Lalu hasilnya akan ku buat dinding kardus rumahku menjadi dinding dengan lapis emas. Semua yang datang ke rumahku harus membayar.”

Peserta kedua…

“Aku ingin menjadi dokter saja. Aku sudah punya modal sebuah batu yang jatuh dari langit. Batu ini akan ku gunakan untuk menyembuhkan seluruh penyakit masyarakat negeri ini dengan mencelupkannya ke dalam minuman mereka.”

Peserta ketiga…

Bla..Bla..Bla…

Peserta ke empat…

Bla..Bla..Bla…

Giliranku…

Aku selalu saja deg-degan jika sudah berbicara tentang mimpi di hadapan banyak orang.

Tidak. Tidak.

Aku ini sudah mahir. Kata orang-orang di kota ini, justru aku yang paling mahir bermain-main dengan mimpi.

“Aku tidak ingin bebicara tentang ingin jadi apa atau keinginan apa yang ingin kucapai. Di sini aku hanya akan bercerita tentang diriku.”

“Aku ini seseorang yang tidak pernah kesepian seumur hidup. Walaupun ayahku tewas dipenggal karena kasus korupsi. Kemudian ibuku esok harinya ditemukan tewas juga gantung diri di kusen kamar mandi. Lalu saudara dan teman-temanku perlahan menjauhi aku.”

“Aku tidak pernah kesepian.”

“Aku hanya sebatang kara.”

                                                               ***

Pengumuman Lomba Menyuarakan Mimpi.

Dibacakan secara bergantian oleh ketiga juri yang mengaku datang dari ibukota tempat peradapan mimpi paling besar di negeri ini. Mulai dari kategori pemula satu persatu hingga sampai di puncak acara, yaitu juara pertama kategori mahir. 

3..2..1..

                1..2..3..

                                3..2..1..

                                                     1..2..3..

Dan pemenang dari Lomba Menyuarakan Mimpi ini tidak lain ialah Aku.

                                               Joko Suprapto.

Seorang pemulung mimpi yang sehari-hari bekerja memunguti sisa-sisa mimpi yang tidak terpakai dari setiap orang di kota kecil ini.

Aku senang.

Ya.

Aku saangaaaaat senang.

Siapa sangka, aku yang menang. Aku hanya bercerita tentang diriku. Aku bahkan sama sekali tidak menjabarkan tentang mimpiku. Tapi juri memilihku.

Si juragan mimpi dari ibukota. Wanita-paruh-baya-bertampang-seperti-penyanyi-dangdut. Dan wanita muda yang angkuh. 

Ketiga juri-yang-mengaku-datang-dari-ibukota itu memilihku.

Aku senang. Si-anak-yang-tak-pernah-kesepian ini senang.

                                                          ***

Di akhir acara, si juragan mimpi mendatangiku.

“Kau mau ku ajak ke ibukota? Akan ku orbitkan kau menjadi pemimpi paling handal se negeri ini.”

“Beri aku uang tiga milyar. Maka esok hari seluruh mimpimu akan terpampang di seluruh negeri ini. Semua orang akan tau perihal tentang mimpi-mimpimu selama ini. “

“Biarkan orang-orang parlemen di ibukota tertunduk malu karena mimpinya tersaingi olehmu.”

Tawaran menarik. Aku bisa menjadi pemimpi paling handal seantero negeri. Tapi dapat darimana aku uang tiga milyar? Aku ini setiap hari hanya bekerja menjadi pemulung mimpi. Memunguti sisa-sisa mimpi yang tidak terpakai dari orang lain lalu menjualnya ke tengkulak mimpi.

Aku berpikir sejenak. Lalu..

“Tawaran anda bagus sekali, Pak.”

“Tapi sepertinya saya tidak begitu tertarik. Saya ingin menjadi makelar mimpi seperti anda saja. Agar saya nanti bisa kaya raya dan mewujudkan mimpi saya sendiri tanpa bantuan siapa-siapa..”

May 12. 0 Notes.

"Ada yang dihapus. Ada yang memaksa untuk dihapus. Kenangan namanya. "

� keongdudul
May 12. 1 Notes.

Apa Kabar MORAL ?

Selamat malam moral.

Bagaimana rasanya dilupakan secara perlahan?

Bagaimana rasanya dimanfaatkan hanya sebagai pajangan semata?

Beberapa hari ini saya melihat sekali berita menarik yang seharusnya bisa kau gunakan untuk menertawakan dirimu sendiri.

Seorang guru di sebuah sekolah yang sangat menjunjung tinggi agama telah mencabuli salah satu siswinya sebanyak 6 kali. tindakan pencabulan tersebut dilakukan di dalam kelas atau kadang di ruang guru.

Sekelompok ormas melakukan perusakan dimana-mana. Dogma-dogma ngawur yang sering mereka teriakkan menjadi dasar aksi ngawur mereka. Banyak orang dirugikan. Banyak rumah ibadah berantakan.

Seorang siswi sekolah dasar menjalani ujian nasionalnya sendirian dengan perut membesar. Menurut pengakuannya, ayah kandungnyalah yang tega berbuat hal tersebut.

Sudah liat kan bagaimana peristiwa-peristiwa ini? 

Kamu dimana ketika semua hal ini terjadi? Kamu sembunyi? Atau justru sedang disembunyikan?

Seingatku ibu pernah membacakan sebuah dongeng pengantar tidur untukku. Kata beliau, dulu moral sangat dijunjung tinggi. Diagung-agungkan oleh semua orang. Sebuah penghinaan besar jika seseorang dikatakn tidak bermoral. 

Lalu kamu sekarang dimana?

                                               ***

Ah ya….

Kamu sekarang hanya sedang menjelma menjadi hiasan dinding di rumah-rumah dan selipan-selipan kata di buku-buku pelajaran sekolah.

Miris. 

May 10. 0 Notes.

"you don’t learn from others precisely because you judge them. "

� (via aanmansyur)
Apr 24. 1 Notes.

"Tepat pada rangkulan pertama aku jatuh cinta. "

� keongdudul
Apr 19. 0 Notes.

Long Distance (Family) Relationship

Pacaran jarak jauh itu biasa. Kalo keluarga yang jarak jauh? Itu susah. Beneran susah banget dan gak enak.

Gak tau kenapa tiba-tiba pagi ini memutuskan untuk posting tentang keluarga. Gegara lagi kangen mungkin ya? Padahal beberapa jam lagi saya juga bakalan ke stasiun terus pulang kampung. Tapi gapapalah sambil ngabisin waktu. hehe.. :D

Saya punya sedikit cerita tentang gimana saya menjalani keluarga yang udah LDR’an sejak saya umur 4tahun.

Sejak umur empat tahun, itu berarti sejak 18 tahun yang lalu udah ngejalanin gimana gak enaknya keluarga LDR’an. Bapak yang emang mobilitasnya cukup tinggi dan gampang banget bosen sama suasana kerja yang itu2 aja bikin kami sekeluarga jarang banget ketemu

Sejak saya umur empat taon, bapak uda sering banget ditugasin ama kantornya buat ke luar kota, beberapa kali malah keluar dari Indonesia. Masi inget banget, dulu pernah waktu saya lagi opname di rumah sakit gegara infeksi saluran kencing tapi cuma ada ibu di rumah, bapak gak ada. Kebetulan si super hero satu itu sedang dalam misi kantor di Swiss. Akhirnya ibu yang kudu sendirian bingung ngurusin saya yang lagi sakit.

Masi inget juga, waktu bapak pindah kerja di Riau. Semakin jauhlah. Semakin kurang intensitas ketemu keluarga.

Kebetulan, bapak emang suka banget pindah-pindah kerja. Katanya, suasana kerja yang itu-itu aja bikin bosen dan bikin kita gak bakal bisa berkembang. Jakarta, Tangerang, Kalimantan, dan terakhir ini di Sukabumi. Terus kapan hari waktu ngobrol sama saya, malah bilang mau ada rencana kerja di Bali. (heisshh.. —”)

Kasian juga sama ibu. Di rumah sendiri. Gimana gak sendiri kalo Bapak cuma bisa pulang sebulan sekali dari Sukabumi, saya kuliah di Malang dan dua minggu sekali baru bisa pulang, sedangkan si adek sekolahnya full day.

Jadilah intensitas ketemu keluarga bener-bener jarang banget. Kumpul keluarga itu udah seperti ‘harta karun’ buat kami. Naah.. jadi jadwal ketemu mereka kudu dipasin. Kudu di-manage dengan baik, cuma biar bisa ketemu dan kumpul bareng!

Saya kadang iri sama anak-anak yang bisa nontong bola bareng bapaknya. Bisa masak bareng ibunya. Bisa makan di resto bareng sekeluarga. Saya? Saya jaraaaang sekali bisa seperti itu. Jarang banget! (ini nulisnya sambil kesel)

Perna ada yang bilang, “Yang penting duit kan tetep ngalir.” Pengen banget nabok orang yang ngomong gini. Ketemu, terus kumpul bareng itu lebih penting!

Kalo saya bisa milih. Saya pengen seperti anak-anak lainnya yang kalo tiap pulang kampung disambut keluarga lengkap. Saya pengen seperti itu. Saya pengen bisa ngobrol enak sama bapak sendiri. Bukan malah sering canggung ky ngomong sama orang asing gara-gara intensitas ketemu yang jaraaanggg banget. Plis. Sumpah keadaan kaya’ begini beneran gak enak!

Tapi di Long Distance (Family) Relationship ini, saya paling salut sama ibu. Ibu beneran sabar banget buat jalanin keadaan yang kaya’ begini. Yang pacaran terus LDR’an aja susahnya amit2. Apalagi yang uda nikah coba, kudu ditambahi tanggung jawab yang segitu gedenya dengan alasan “keluarga dan komitmen”.

Jadi, beruntunglah kalian yang bisa sering-sering ketemu keluarga lengkap. Bisa kumpul keluarga. Bisa nonton bola bareng bapaknya masing-masing. Kalian bener-bener beruntung yang ngalamin keadaan kaya’ begitu. Soalnya biar gimanapun, seberat apapun masalah yang lagi kita hadepin, keluarga dan Tuhan pasti jadi tujuan akhir kita kembali. Trust Me, it’s works! #halah

Terus buat yang ngalamin hal yang sama kaya’ saya, ayo semangat! Ngejalanin LDFR itu emang susah. Tapi sekalinya bisa kumpul bareng kudu manfaatin momment sebaik mungkin.

kaya’ begini nih kalo uda kumpul. ini nyari waktunya susah banget.

(ini waktu ultah pernikahan bapak sama ibu)

nahhh.. senyum yang kaya begini ini yang bikin saya selalu rindu sama yang namanya keluarga.

Tetep semangat buat semua anak yang lagi ngejalanin LD(R)F !!

Yeay! :D :D

Apr 15. 2 Notes.

"Entah darimana munculnya teman, terkadang mereka suka menghilang. "

� Roro Ajeng Sekar Arum (via hellodancingqueen)
Apr 11. 4 Notes.

"Tuhan adalah hiburan paling menyenangkan bagi orang yang sedang kesusahan. "

� Agus Noor dalam Sepotong Bibir Paling indah di Dunia
Apr 10. 0 Notes.

Lelaki Pemintal Kenangan

Ini sebuah cerita pagi tentang aku dan lelaki pemintal kenangan.

Aku menemuinya di sebuah pasar kebahagian. Di pasar itu,semua kebahagian dijual dengan sangat murah. Ada dua ratus dua puluh dua toko di sana, dan semuanya menawarkan kebahagiaan. Ada penjual gulali kebahagiaan, ada kios bunga kebahagiaan, ada toko air mata kebahagiaan, selain itu ada juga kios kenangan. Tidak heran pasar ini disebut dengan pasar kebahagiaan, selogan di pasar ini pun sungguh unik.

“Semua Orang Berhak Bahagia. Jika Tidak Dapat Membuatnya, Maka Belilah.”

Kios kenangan. Di sanalah aku bertemu dengan lelaki pemintal kenangan. Kios ini ialah kios terkecil di pasar kebahagiaan yang begitu besar ini. Kios paling aneh. Semua kios di pasar ini menambahkan kata “kebahagiaan” di belakang nama kiosnya. Yang satu ini tidak. Dia hanya menamai kiosnya dengan nama KIOS KENANGAN.

Kios kecil ini hanya berisi sebuah mesin pemintal kenangan bersama puluhan benang-benang kenangan di sekelilingnya. Lelaki di dalamnya terlihat dengan sangat sabar sekali memintal benang kenangan ini menjadi selembar kain putih kenangan. Tatapannya lelaki ini serius sekali. Bahkan ia hampir tidak menyadari kedatanganku ke kiosnya.

“Ehm.. Permisi..”

“Eh, iya… Silahkan melihat-lihat, mungkin ada yang bisa saya bantu?” lelaki itu terlihat sedikit kaget sepertinya ketika menyadari kedatanganku.

“Tidak.. saya hanya sedang melihat-lihat saja.. Kios anda menarik sekali.. Kenapa anda menjual lembaran-lembaran kain kenangan di pasar kebahagiaan ini?” tanyaku

Sebuah senyum kecil ia sunggingkan disudut bibirnya. Sejenak ia diam mendengar pertanyaanku.

“Karena setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaannya. Darimanapun asalnya. Aku bahagia ketika memintal benang-benang kenangan ini menjadi berlembar-lembar kain kenangan.”

Aku diam. Masih tidak mengerti kata-kata lelaki pemintal kenangan ini.

Tidak berapa lama kemudian, ada seorang gadis kecil datang ke kios ini. Clingak-clinguk, seperti bingung apa yang ingin dia cari. Segera dihampirilah gadis kecil ini oleh si lelaki pemintal kenangan.

“Kamu sedang mencari apa adik kecil? Ada yang bisa saya bantu?”

“Aku mencari selembar kain kenangan tentang ibuku. Bisa kau membuatkannya untukku? Aku lupa bagaimana senangnya punya ibu sejak kecelakaan tiga tahun lalu yang menyebabkan maut menyapa ibuku terlalu cepat.” Ujar gadis kecil ini dengan polos.

“Oh, baiklah. Akan kubuatkan kain kenangan yang indah untukmu. Besok sore kau boleh kembali lagi ke kiosku ini untuk mengambilnya.” Jawab si lelaki pemintal kenangan ini. Serta merta ia kembali ke mesin pintalnya kemudian mengerjakan pesananan si gadis kecil tadi.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang laki-laki muda. Laki-laki ini sepertinya seumuran denganku. Tidak terlalu tampan. Tidak terlalu jelek juga untuk disebut jelek. Kau taulah maksudku. Kadar ketampanan di wajahnya bisa dibilang cukup. Tapi untuk apa ia membutuhkan kenangan?

“Permisi….” Ujar calon pembeli kios kenangan yang satu ini.

“Eh.. iya.. Ada yang bisa saya bantu, tuan?” lelaki pemintal kenangan menghentikan lagi pekerjaannya dan mulai melayani lelaki ini.

“Apakah anda bisa membuatkanku sebuah kain kenangan yang sangaaat indah? Kain ini untuk wanita paling indah yang pernah ada di hidupku. Persembahan terakhir untuk wanita pujaanku. Kain ini akan jadi kado terindah di hari pernikahannya dengan anak pejabat esok hari.”

Aku diam. Lelaki pemintal kenangan juga diam.

“Oh tentu saja bisa, tuan. Saya akan membuatkan kain kenangan paling indah untuk wanita pujaan anda.” ujar si lelaki pemintal kenangan ini.

“Untuk apa kau menghadiahkannya lembaran kain kenangan? Bukankah tidak akan berguna bagi wanitamu? Toh esok hari juga ia akan menikah dengan orang lain?” Rasa penasaranku sudah berada dipuncaknya. Tidak tahan lagi aku bertanya pada pembeli di kios kenangan yang satu ini.

“Ini semua agar wanita pujaanku tau betapa bahagianya aku menyimpan kenangan tentang dia. Semoga dia juga menerima kain kenangan pemberianku dengan bahagia dan menyimpannya dengan baik.”

“….”

Aku terheran-heran dengan pemandangan barusan yang ku lihat. Semudah itu membuat sebuah kenangan, kemudian menjualnya menjadi sebuah kebahagiaan. Ku pikir tadinya kebahagiaan hanya didapat dari hal-hal yang menyenangkan. Ternyata aku salah. Dari lembaran kenangan pun kebahagiaan juga dapat diraih.

***

“Pak… apakah di sini juga menyediakan layanan jual beli kenangan? Saya ingin menjual lembaran kenangan yang saya miliki tentang dia yang sudah mengoyak harga diri saya..” ujarku sebelum beranjak pergi meninggalkan kios kenangan ini.

Apr 09. 0 Notes.
next →